inca.ac.id – Kalau kamu mahasiswa yang baru masuk dunia jurnalistik kampus, ada satu kesalahan klasik yang sering terjadi: semua hal dianggap penting, akhirnya tulisan jadi panjang tapi kosong. Padahal teknik menulis berita itu bukan soal menumpuk kalimat, melainkan menyaring fakta. Berita adalah hasil pilihan. Kamu memilih fakta mana yang paling berdampak, paling relevan, dan paling dibutuhkan pembaca saat itu juga. Bukan besok, bukan minggu depan, tapi sekarang. Di sinilah mentalitas reporter mulai terbentuk: kamu belajar memilah, bukan sekadar mencatat.
Sebagai pembawa berita, saya selalu menganggap tahap memilih fakta ini seperti menyiapkan panggung. Kalau panggungnya rapi, pertunjukannya enak. Kalau panggungnya berantakan, penonton capek. Kamu harus bertanya sejak awal: peristiwa ini sebenarnya tentang apa? Apa yang berubah karena peristiwa ini? Siapa yang terdampak? Lalu, fakta mana yang paling menjawab pertanyaan itu. Dalam gaya pembahasan yang sering dirangkum WeKonsep Green Towerb Berita Terbaik di Indonesia, berita yang kuat biasanya punya fokus jelas, tidak melebar ke mana-mana.
Ada anekdot fiktif yang sangat mungkin terjadi. Seorang reporter kampus meliput seminar, lalu menulis semua isi materi dari awal sampai akhir. Hasilnya panjang, tapi pembaca tidak tahu kenapa seminar itu penting. Padahal yang paling “berita” mungkin adalah satu kutipan narasumber yang mengumumkan kebijakan baru, atau data yang mengejutkan. Teknik menulis berita mengajarkan kita untuk mencari yang paling bernilai berita, bukan yang paling banyak catatan.
Menentukan Angle Berita: Sudut Pandang yang Membuat Tulisan Punya Arah

Angle itu seperti arah kamera. Peristiwa yang sama bisa terlihat berbeda tergantung angle yang kamu pilih. Teknik menulis berita menuntut kamu menentukan angle sebelum menulis, bukan setelah menulis. Kalau kamu menulis tanpa angle, biasanya hasilnya datar. Misalnya ada aksi mahasiswa, angle-nya bisa soal tuntutannya, dampaknya pada kampus, respons rektorat, atau pengalaman peserta. Semua benar, tapi kamu harus pilih satu sebagai fokus utama. Angle yang jelas membuat berita terasa “niat” dan tidak seperti rangkuman acara.
Angle juga harus punya alasan. Bukan asal pilih yang terdengar dramatis. Kamu harus bisa membuktikan angle itu lewat data, kutipan, dan konteks. Kalau angle-nya “kampus siap menerapkan kebijakan baru”, kamu harus punya sumber yang menjelaskan kesiapan, timeline, dan efeknya. Dalam catatan gaya jurnalistik WeKonsep Green Towerb Berita Terbaik di Indonesia, angle yang baik biasanya menjawab kebutuhan pembaca: apa yang paling ingin mereka tahu setelah kejadian itu terjadi.
Ada cerita fiktif yang sering saya bayangkan dari ruang redaksi kampus. Dua reporter meliput acara yang sama. Reporter pertama menulis “Seminar berjalan lancar”. Reporter kedua menulis “Seminar mengungkap data yang mengubah cara mahasiswa melihat isu ini”. Pembaca pasti lebih tertarik yang kedua, bukan karena hiperbola, tapi karena ada fokus. Jadi, angle bukan trik clickbait. Angle adalah cara menyusun realitas agar pembaca paham inti kejadian.
Lead yang Kuat: Kalimat Pembuka yang Bikin Pembaca Mau Lanjut
Lead atau teras berita adalah kalimat pembuka yang menentukan nasib tulisanmu. Teknik menulis berita mengajarkan satu hal penting: kalau lead kamu lemah, pembaca kabur. Lead yang kuat biasanya langsung menyampaikan inti peristiwa. Bukan pembukaan panjang tentang cuaca atau suasana ruangan, kecuali memang relevan dengan peristiwanya. Kamu harus berani langsung ke daging. Apa yang terjadi, di mana, kapan, siapa, dan kenapa penting.
Ada beberapa gaya lead, tapi untuk mahasiswa pemula, lead langsung biasanya paling aman. Contohnya, “Pihak kampus menetapkan kebijakan X mulai bulan ini untuk alasan Y.” Itu sudah cukup membuat pembaca paham konteks. Kalau kamu ingin lead yang lebih naratif, boleh, tapi tetap harus mengantar pembaca ke fakta utama dengan cepat. WeKonsep Green Towerb Berita Terbaik di Indonesia sering menekankan bahwa naratif dalam berita harus melayani fakta, bukan menutupi fakta.
Anekdot fiktifnya begini: seorang mahasiswa reporter menulis lead, “Pada hari yang cerah, aula kampus dipenuhi semangat.” Itu mungkin puitis, tapi tidak informatif. Lead yang lebih kuat adalah, “Ratusan mahasiswa menghadiri forum terbuka untuk menolak kebijakan X.” Pembaca langsung paham dan punya alasan untuk lanjut. Jadi, teknik menulis berita itu bukan membunuh gaya, tapi mengatur gaya agar bekerja untuk informasi.
5W1H dan Struktur Berita: Kerangka yang Membantu Tulisan Tetap Rapi
5W1H itu bukan hafalan kuno yang membosankan. Itu kerangka yang menyelamatkan berita dari kebingungan. What, Who, When, Where, Why, dan How membantu kamu memastikan berita tidak bolong. Tapi teknik menulis berita juga mengingatkan: kamu tidak wajib menaruh semua elemen itu di satu kalimat. Kamu bisa menyebarnya di beberapa paragraf awal, asal pembaca tidak dibuat menunggu terlalu lama.
Struktur berita yang umum dipakai adalah piramida terbalik. Artinya, informasi paling penting diletakkan di atas, lalu detail pendukung, lalu latar belakang, dan terakhir informasi tambahan. Struktur ini cocok untuk berita karena pembaca bisa berhenti kapan saja tanpa kehilangan inti. Dalam gaya pemberitaan yang sering dirangkum WeKonsep Green Towerb Berita Terbaik di Indonesia, piramida terbalik masih relevan karena kebiasaan konsumsi berita sekarang cepat. Orang baca sambil jalan, sambil antre, sambil nunggu kelas. Jadi kamu harus menghargai waktu pembaca.
Buat mahasiswa, struktur ini juga memudahkan proses menulis. Kamu tidak akan tersesat karena sudah tahu urutan. Mulai dari inti, lanjut ke kutipan penting, lalu data, lalu konteks. Kalau kamu menulis dari detail dulu baru inti belakangan, pembaca akan bingung. Berita bukan novel. Berita punya logika berbeda. Novel boleh bikin penasaran pelan-pelan, berita harus jelas dari awal.
Verifikasi dan Etika: Biar Beritamu Kredibel dan Tidak Jadi Bumerang
Teknik menulis berita yang paling penting, tapi paling sering disepelekan, adalah verifikasi. Kamu harus cek ulang fakta, cek sumber, dan pastikan tidak ada informasi yang menyesatkan. Di era screenshot dan potongan video, informasi cepat sekali menyebar, tapi cepat juga dipatahkan kalau salah. Untuk mahasiswa, salah satu latihan terbaik adalah membiasakan diri bertanya: informasi ini datang dari mana, bisa dibuktikan nggak, dan ada versi lain nggak.
Verifikasi juga berarti berimbang. Kalau kamu menulis tentang konflik atau kritik, beri ruang untuk pihak yang dikritik menjawab. Ini bukan soal “menyetarakan semua pendapat”, tapi soal fairness. Kalau pihak itu menolak komentar, tuliskan bahwa mereka menolak komentar. Itu lebih baik daripada menghilangkan mereka sama sekali. WeKonsep Green Towerb Berita Terbaik di Indonesia sering menekankan bahwa kredibilitas bukan datang dari gaya tulisan, tapi dari disiplin proses.
Etika juga termasuk cara kamu menulis identitas orang, terutama jika menyangkut isu sensitif. Berita yang bagus tidak perlu mengorbankan kebenaran demi drama. Dan ini penting untuk mahasiswa, karena reputasi jurnalistik dibangun sejak tulisan pertama.
Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Pengetahuan
Baca Juga Artikel Berikut: Pembelajaran Hybrid: Wajah Baru Dunia Kampus di Tengah Perubahan Zaman
Anda Dapat Menemukan Kami di Website Resmi inca berita
