JAKARTA, inca.ac.id – Jutaan orang di seluruh dunia masih terancam oleh penyakit yang disebabkan makhluk hidup berukuran kecil yang tinggal dan mengambil makanan dari tubuh inangnya. Moreover, ilmu yang mempelajari makhluk parasit ini dikenal dengan nama parasitologi. Laporan WHO pada tahun 2025 mencatat bahwa sekitar 1,5 miliar orang masih membutuhkan penanganan terhadap penyakit tropis terabaikan yang sebagian besar disebabkan oleh parasit. Furthermore, angka ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang parasitologi tetap sangat penting bagi kesehatan masyarakat dunia.
Di Indonesia, penyakit akibat parasit masih menjadi masalah kesehatan yang serius terutama di daerah dengan kebersihan lingkungan yang kurang memadai. In addition, cacingan, malaria, dan toksoplasmosis merupakan contoh penyakit parasit yang masih banyak ditemukan di berbagai wilayah tanah air. Therefore, memahami dasar ilmu parasitologi menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin mengenal cara parasit menyerang tubuh, jalur penularannya, dan upaya pencegahan yang bisa dilakukan.
Pengertian Parasitologi dan Ruang Lingkupnya

Parasitologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari makhluk hidup parasit, inang tempat mereka tinggal, dan hubungan antara keduanya. Moreover, kata parasit sendiri berasal dari bahasa Yunani parasitos yang bermakna makhluk yang makan di meja orang lain. Menurut Fakultas Kedokteran Universitas Jember, parasitologi kini terbatas mempelajari hewan parasit yang meliputi protozoa, cacing, dan artropoda yang menjadi penyebab atau penular penyakit. Furthermore, ilmu ini mencakup pengelompokan jenis, bentuk tubuh, daur hidup, serta pola penyebaran penyakit yang ditimbulkan oleh setiap jenis parasit.
Sejarah parasitologi bermula dari pengamatan Antonie van Leeuwenhoek pada tahun 1681 yang mencatat dan menggambar Giardia lamblia melalui alat pembesar sederhana. First, pengamatan ini menjadikan Giardia sebagai protozoa parasit pertama pada manusia yang berhasil dilihat melalui alat pembesar. Second, pada tahun 1687 Giovanni Cosimo Bonomo dan Diacinto Cestoni dari Italia membuktikan bahwa kudis disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Third, temuan ini menjadikan kudis sebagai penyakit pertama pada manusia yang penyebab mikroskopisnya diketahui. Additionally, seiring berkembangnya alat pembesar dan teknik pengamatan, parasitologi tumbuh menjadi ilmu yang melibatkan banyak bidang seperti biologi sel, biokimia, kekebalan tubuh, dan genetika.
Ruang lingkup parasitologi mencakup beberapa cabang utama:
- Protozoologi yang mempelajari protozoa atau makhluk bersel tunggal seperti Plasmodium penyebab malaria
- Helmintologi yang mempelajari cacing parasit seperti cacing gelang, cacing pita, dan cacing tambang
- Entomologi kedokteran yang mempelajari serangga dan artropoda penular penyakit seperti nyamuk dan kutu
- Mikologi yang mempelajari jamur parasit penyebab penyakit kulit dan penyakit dalam pada manusia
- Parasitologi kedokteran yang berfokus pada parasit penyebab penyakit pada manusia beserta cara pengobatannya
- Parasitologi kedokteran hewan yang mempelajari parasit pada hewan ternak dan hewan peliharaan
Jenis Parasit Utama dalam Kajian Parasitologi
Menurut Medical Microbiology edisi keempat, parasit penyebab penyakit pada manusia terbagi menjadi tiga kelompok utama. Moreover, setiap kelompok memiliki bentuk tubuh, cara hidup, dan jalur penularan yang berbeda satu sama lain. Pemahaman tentang pembagian kelompok ini menjadi dasar penting dalam parasitologi untuk mengenali jenis parasit dan memilih cara pengobatan yang tepat. Furthermore, ahli parasitologi F.E.G. Cox mencatat bahwa manusia menjadi inang bagi hampir 300 jenis cacing parasit dan lebih dari 70 jenis protozoa.
Kelompok pertama adalah protozoa yaitu makhluk bersel tunggal yang bisa hidup bebas atau menjadi parasit. For example, Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles menjadi penyebab malaria yang masih membunuh ratusan ribu orang setiap tahun. Also, Entamoeba histolytica penyebab disentri amuba dan Giardia lamblia penyebab diare juga termasuk dalam kelompok ini. In addition, Toxoplasma gondii yang ditularkan melalui kucing dan daging mentah menjadi ancaman serius bagi ibu hamil dan janin.
Kelompok kedua adalah cacing parasit atau helmin yang terbagi menjadi cacing gelang, cacing pipih, dan cacing pita. Moreover, cacing gelang seperti Ascaris lumbricoides bisa mencapai panjang 35 sentimeter di usus halus manusia. Cacing tambang seperti Necator americanus menghisap darah dari dinding usus dan menyebabkan kekurangan darah. Furthermore, cacing pita seperti Taenia solium bisa tumbuh hingga beberapa meter di dalam usus manusia.
Kelompok ketiga adalah artropoda yang berperan sebagai penyebar penyakit atau parasit langsung:
- Nyamuk Anopheles yang menularkan Plasmodium penyebab malaria melalui gigitannya ke manusia
- Nyamuk Aedes yang menularkan virus demam berdarah dengue dari satu orang ke orang lain
- Lalat pasir yang menularkan Leishmania penyebab leishmaniasis pada kulit dan organ dalam
- Kutu kepala yang hidup di rambut dan menghisap darah dari kulit kepala
- Tungau Sarcoptes scabiei yang menggali lubang di bawah kulit dan menyebabkan gatal hebat
- Caplak yang bisa menularkan berbagai penyakit kepada manusia dan hewan
Daur Hidup Parasit dalam Kajian Parasitologi
Mempelajari daur hidup parasit menjadi bagian paling penting dalam parasitologi karena menentukan cara penularan dan pencegahan penyakit. Moreover, setiap jenis parasit memiliki daur hidup yang berbeda dan sering kali melibatkan lebih dari satu inang. Parasit bisa mengubah bentuk tubuh dan sifat biokimia secara mencolok pada setiap tahap kehidupannya. Furthermore, pemahaman tentang daur hidup ini membantu para ahli menentukan kapan dan bagaimana manusia bisa terinfeksi serta cara memutus rantai penularan.
Plasmodium penyebab malaria memiliki daur hidup yang melibatkan dua inang yaitu nyamuk Anopheles dan manusia. First, nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia dan memasukkan parasit ke dalam aliran darah. Second, parasit berkembang biak di dalam sel hati kemudian menyerang sel darah merah. Third, sel darah merah yang terinfeksi pecah secara bersamaan dan menyebabkan demam tinggi yang khas pada penderita malaria. Additionally, nyamuk lain yang menggigit penderita malaria akan mengambil parasit dan memulai siklus penularan yang baru.
Cacing gelang Ascaris memiliki daur hidup yang lebih sederhana tetapi tetap menarik untuk dipelajari. Moreover, telur cacing yang terbuang bersama tinja manusia bisa bertahan di tanah selama berminggu minggu. Telur tersebut masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Furthermore, larva cacing menempuh perjalanan dari usus ke paru paru melalui aliran darah sebelum kembali ke usus dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Penyakit Parasit dan Peran Parasitologi bagi Kesehatan Dunia
Laporan WHO pada tahun 2024 mencatat bahwa 1,62 miliar orang di dunia masih membutuhkan penanganan terhadap penyakit tropis terabaikan. Moreover, meskipun angka ini menunjukkan penurunan 26 persen dari tahun 2010, laju penurunan belum cukup cepat untuk mencapai sasaran pengurangan 90 persen pada tahun 2030. Parasitologi berperan penting dalam upaya pengendalian penyakit ini melalui riset tentang daur hidup, pengembangan obat, dan pemantauan penyebaran penyakit. Furthermore, pada tahun 2024 tujuh negara berhasil diakui WHO karena menghapus satu penyakit tropis terabaikan dari wilayah mereka.
Malaria yang disebabkan oleh Plasmodium masih menjadi penyakit parasit paling mematikan di dunia. However, selain malaria, beberapa penyakit parasit lain juga masih menimbulkan beban besar bagi kesehatan masyarakat dunia. Schistosomiasis yang disebabkan oleh cacing darah Schistosoma menginfeksi ratusan juta orang di daerah tropis. In addition, filariasis atau kaki gajah yang disebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti masih menjadi ancaman di banyak negara termasuk Indonesia.
Penyakit parasit utama yang masih menjadi perhatian dunia saat ini:
- Malaria yang disebabkan Plasmodium dan ditularkan nyamuk Anopheles masih membunuh ratusan ribu orang per tahun
- Schistosomiasis yang disebabkan cacing Schistosoma menginfeksi masyarakat di daerah dengan sanitasi buruk
- Leishmaniasis yang disebabkan Leishmania dan ditularkan lalat pasir menyerang kulit dan organ dalam
- Filariasis atau kaki gajah yang disebabkan cacing Wuchereria menyebabkan pembengkakan anggota tubuh
- Penyakit Chagas yang disebabkan Trypanosoma cruzi dan ditularkan melalui serangga triatomine
- Cacingan yang disebabkan oleh cacing tanah seperti Ascaris, cacing tambang, dan cacing cambuk
Cara Mendeteksi Parasit melalui Laboratorium Parasitologi
Pendeteksian parasit menjadi salah satu tugas utama laboratorium parasitologi di rumah sakit dan pusat kesehatan. Moreover, bahan pemeriksaan yang paling umum digunakan adalah sampel tinja karena sebagian besar parasit bersifat enterik atau berkaitan dengan saluran pencernaan. Pemeriksaan darah juga diperlukan untuk mendeteksi parasit yang hidup di dalam aliran darah seperti Plasmodium penyebab malaria. Furthermore, pemeriksaan kulit, dahak, dan cairan tubuh lainnya juga bisa dilakukan sesuai dengan dugaan jenis parasit yang menginfeksi.
Laboratorium parasitologi FKUI telah menjadi rujukan untuk kasus parasit dari dalam dan luar negeri. For example, laboratorium ini mampu melakukan pemeriksaan dengan cara pengamatan langsung melalui alat pembesar maupun teknik biologi molekuler untuk kepastian. Also, dengan hanya sekitar 38 dokter ahli parasitologi klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, kebutuhan tenaga ahli di bidang ini masih sangat besar.
Beberapa cara pendeteksian parasit yang umum digunakan dalam parasitologi:
- Pemeriksaan tinja langsung untuk menemukan telur cacing, larva, atau bentuk protozoa di bawah alat pembesar
- Pemeriksaan apusan darah tepi untuk menemukan Plasmodium di dalam sel darah merah penderita malaria
- Pemeriksaan kerokan kulit untuk menemukan tungau Sarcoptes scabiei penyebab kudis
- Uji serologi untuk mendeteksi zat kekebalan tubuh terhadap parasit tertentu melalui sampel darah
- Teknik biologi molekuler seperti PCR untuk mendeteksi materi genetik parasit dengan kepekaan tinggi
- Pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT Scan untuk menemukan kista parasit di organ dalam
Parasitologi di Perguruan Tinggi Indonesia
Ilmu parasitologi menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan kedokteran dan ilmu kesehatan di Indonesia. Moreover, hampir seluruh fakultas kedokteran di tanah air memiliki departemen khusus yang menangani pengajaran dan riset di bidang ini. Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana misalnya, didukung oleh dosen berkualifikasi tinggi yang menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Furthermore, ruang lingkup pengajaran meliputi helmintologi, protozoologi, entomologi, dan mikologi yang dipelajari melalui kuliah tatap muka, diskusi kelompok, dan praktikum.
Universitas Gadjah Mada melalui situs Medical Parasitology menyediakan sumber belajar lengkap tentang parasit penyebab penyakit pada manusia. For example, materi yang disajikan mencakup pengelompokan jenis, bentuk tubuh, daur hidup, cara mendiagnosis, dan tata laksana penyakit parasit. Also, Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang membuka program baru pada tahun ajaran 2025/2026 menyediakan laboratorium parasitologi tempat mahasiswa belajar mengenali bentuk protozoa, cacing, dan ektoparasit. In addition, laboratorium Parasitologi FKUI telah menjadi pusat rujukan yang mampu menangani kasus dari dalam dan luar negeri.
Kegiatan pendidikan dan riset parasitologi di perguruan tinggi Indonesia:
- Universitas Udayana memiliki departemen dengan lima dosen ahli yang aktif melakukan riset dan pelayanan kesehatan
- UGM menyediakan sumber belajar daring lengkap tentang parasitologi kedokteran bagi mahasiswa dan tenaga medis
- Universitas 17 Agustus Surabaya membangun laboratorium khusus untuk mendukung pembelajaran praktis
- FKUI menjadi pusat rujukan nasional dengan laboratorium yang mampu menangani kasus parasit dari luar negeri
- Universitas Airlangga aktif menerbitkan buku ajar tropik infeksi yang mencakup penyakit akibat parasit dan jamur
- Berbagai perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan parasit ke sekolah
Pencegahan Penyakit Parasit BerdasarkanParasitologi
Pengetahuan tentang parasitologi tidak hanya berguna bagi tenaga medis tetapi juga bagi masyarakat umum dalam mencegah penularan penyakit. Moreover, sebagian besar penyakit parasit bisa dicegah melalui kebiasaan hidup bersih dan penyediaan air serta sanitasi yang memadai. WHO menegaskan bahwa akses terhadap air bersih, sanitasi, dan kebersihan atau WASH menjadi salah satu pilar utama pengendalian penyakit tropis terabaikan. Furthermore, pada tahun 2023 lebih dari 860 juta orang menerima pengobatan massal untuk mencegah dan mengendalikan penyakit parasit.
Langkah pencegahan penyakit parasit yang bisa diterapkan setiap hari:
- Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan kamar kecil untuk mencegah masuknya telur cacing
- Memasak daging dan ikan hingga benar benar matang untuk membunuh larva cacing pita dan cacing lainnya
- Menggunakan kelambu berinsektisida saat tidur di daerah yang banyak nyamuk penular malaria
- Menjaga kebersihan sumber air minum dan menggunakan saringan atau memasak air sebelum diminum
- Membuang tinja di jamban yang layak agar telur cacing tidak mencemari tanah dan sumber air
- Memotong kuku secara teratur dan mengenakan alas kaki saat berjalan di tanah untuk mencegah cacingan
- Memeriksa kesehatan hewan peliharaan secara rutin untuk mencegah penularan parasit dari hewan ke manusia
Perkembangan Terkini dan MasaDepanParasitologi
Ilmu parasitologi terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan meningkatnya tantangan kesehatan dunia. Moreover, pada tahun 2025 program WHO untuk penyakit tropis terabaikan merayakan 20 tahun kerja nyata dalam menurunkan beban penyakit parasit di seluruh dunia. Hingga akhir tahun 2024, sebanyak 54 negara telah berhasil menghapus setidaknya satu penyakit tropis terabaikan dari wilayah mereka. Furthermore, pada tahun yang sama WHO meluncurkan proses penentuan prioritas riset dan pengembangan untuk penyakit tropis serta meluluskan enam sediaan obat baru.
Perkembangan teknik biologi molekuler dan kecerdasan buatan membuka peluang baru dalam parasitologi. For example, WHO pada tahun 2024 melakukan uji lapangan pertama untuk WHO Skin App berbasis kecerdasan buatan di Kenya untuk mendeteksi penyakit kulit akibat parasit. Also, perubahan iklim menjadi tantangan baru karena memperluas wilayah sebaran nyamuk dan parasit ke daerah yang sebelumnya aman. Therefore, parasitologi akan semakin penting dalam menghadapi ancaman penyakit parasit yang terus berubah di masa depan.
Perkembangan terkini dan tantangan yang dihadapi parasitologi saat ini:
- WHO meluluskan enam sediaan obat baru dan satu vaksin dengue pada tahun 2024 untuk mendukung pengendalian penyakit
- Penggunaan kecerdasan buatan mulai diterapkan untuk mendeteksi penyakit kulit akibat parasit di lapangan
- Teknik biologi molekuler seperti PCR meningkatkan kepekaan pendeteksian parasit yang sulit ditemukan cara biasa
- Perubahan iklim memperluas wilayah sebaran parasit dan nyamuk penular ke daerah yang sebelumnya bebas
- Perpindahan penduduk dan perjalanan lintas negara meningkatkan risiko penyebaran parasit ke wilayah baru
- Kekurangan tenaga ahli parasitologi klinik di Indonesia dengan hanya sekitar 38 dokter yang tersebar tidak merata
Kesimpulan
Parasitologi merupakan cabang ilmu penting yang mempelajari makhluk parasit, inang, dan hubungan di antara keduanya untuk menjaga kesehatan manusia dan hewan. Moreover, data WHO menunjukkan bahwa sekitar 1,5 miliar orang di dunia masih membutuhkan penanganan terhadap penyakit yang disebabkan oleh parasit. Pemahaman tentang jenis parasit, daur hidup, dan cara penularan menjadi dasar untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang masih mengancam masyarakat dunia. Furthermore, di Indonesia sendiri penyakit parasit seperti malaria, cacingan, dan toksoplasmosis masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius.
Perguruan tinggi Indonesia melalui departemen parasitologi di berbagai fakultas kedokteran terus mendorong pendidikan dan riset untuk mencetak tenaga ahli yang dibutuhkan. In addition, kemajuan teknologi seperti biologi molekuler dan kecerdasan buatan membuka peluang baru dalam mendeteksi dan mengendalikan parasit. In conclusion, parasitologi akan terus berperan penting dalam menjaga kesehatan masyarakat seiring meningkatnya tantangan penyakit parasit akibat perubahan iklim dan perpindahan penduduk di masa depan.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Pengetahuan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Nanoteknologi Ilmu Kecil dengan Dampak Besar bagi Dunia
#Cacing Parasit Manusia #Daur Hidup Parasit #Ilmu Parasit #Laboratorium Parasitologi #Malaria Plasmodium #Parasitologi #Pencegahan Cacingan #Penyakit Tropis Terabaikan #Protozoa Penyebab Penyakit #WHO Penyakit Parasit
