Jakarta, inca.ac.id – Setiap pagi, Mila membuka ponselnya dan disambut puluhan notifikasi. Mulai dari email kerja, grup WhatsApp keluarga, akun Instagram hingga berita terbaru yang membuat alisnya terangkat. Dalam sekejap, Mila diseret ke dalam arus informasi tanpa batas.
Tapi… dari semua itu, berapa banyak yang benar-benar ia pahami? Mana informasi yang valid? Apa yang hanya clickbait? Inilah titik awal pentingnya literasi individu.
Literasi individu bukan cuma soal bisa baca dan tulis. Ini adalah kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi senjata penting di tengah badai informasi yang kita hadapi tiap detik.
Menurut salah satu survei internasional yang pernah dikutip Kemdikbud, literasi Indonesia masih tergolong rendah. Kita bisa membaca, tapi belum tentu paham. Kita bisa menyebar informasi, tapi belum tentu mengecek validitasnya.
Apakah ini kesalahan individu? Tidak juga. Sistem pendidikan kita selama puluhan tahun lebih fokus pada hafalan, bukan pada pemahaman mendalam. Kita diajari apa yang harus dikatakan, tapi tidak selalu diajari cara berpikir kritis.
Apa Saja yang Termasuk Literasi Individu?

-
Literasi informasi: kemampuan memilah sumber kredibel dan menyaring hoaks.
-
Literasi media: memahami bias media dan framing berita.
-
Literasi digital: tahu cara menjaga privasi dan etika di dunia maya.
-
Literasi numerasi: membaca data dan grafik dengan logis.
-
Literasi emosional: memahami emosi diri saat menerima informasi—dan tidak langsung marah atau terprovokasi.
Jadi literasi bukan cuma soal otak. Ia menyentuh hati, logika, dan nalar. Ia adalah seni bertahan hidup di dunia digital.
Dari Sekolah ke Media Sosial: Di Mana Kita Belajar Literasi?
Pernahkah kamu merasa lebih belajar tentang kehidupan dari Twitter dibanding dari sekolah?
Ironis, tapi ini dialami banyak Gen Z dan Milenial. Sekolah sering hanya memberi dasar. Tapi dunia maya—dengan segala kekacauan dan kelucuannya—justru jadi medan latihan literasi yang sesungguhnya.
Namun, masalahnya: media sosial tidak punya kurikulum. Tidak ada ujian, tidak ada guru. Hanya algoritma yang memperkuat apa yang kita suka, bukan yang kita butuh.
Seorang mahasiswa bernama Gani pernah mengaku saat diminta mencari referensi ilmiah, ia malah mengutip akun TikTok. Bukan karena malas, tapi karena ia tidak tahu bagaimana mencari jurnal akademik. Ini bukan kesalahan Gani. Ini kegagalan sistem.
Literasi individu seharusnya diajarkan sejak dini, lewat cara yang menyenangkan, bukan dengan buku setebal kamus. Banyak negara mulai menyelipkan literasi digital dan informasi ke dalam pelajaran biasa. Contohnya Finlandia, yang mengintegrasikan literasi informasi ke semua mata pelajaran. Anak-anak diajarkan cara mengecek sumber berita sejak SD!
Di Indonesia, beberapa inisiatif sudah muncul, seperti program Gerakan Literasi Nasional. Tapi tantangannya tetap besar: akses, pelatihan guru, dan kurikulum yang belum fleksibel.
Padahal kalau dipikir, kita butuh literasi seperti butuh udara. Setiap hari, kita menyerap informasi—dari spanduk di jalanan sampai komentar netizen soal politik dan skincare. Kalau salah menyerap, kita bisa salah ambil keputusan. Fatal.
Literasi dan Keputusan Hidup: Dari Belanja Online sampai Memilih Presiden
Tahu nggak, ada riset menarik dari DataIndonesia.id tahun 2023 yang menunjukkan bahwa 70% masyarakat Indonesia mengakses informasi politik dari media sosial. Tapi 40%-nya tidak tahu bagaimana mengecek kebenaran dari konten yang mereka lihat.
Itu artinya, keputusan penting seperti memilih pemimpin bisa dipengaruhi meme dan caption viral.
Contoh lain: belanja online. Kamu lihat iklan “Diskon 90%, tinggal hari ini!” dan langsung checkout. Padahal, harga aslinya sudah dinaikkan duluan. Kalau punya literasi konsumen dan numerasi yang baik, kamu mungkin sadar dan menahan diri.
Literasi individu juga masuk ke ranah kesehatan. Salah baca informasi soal vaksin atau obat bisa fatal. Di masa pandemi, kita melihat banyak korban misinformasi—dari tips minum air panas sampai percaya konspirasi chip 5G.
Jadi, literasi bukan hal sepele. Ia menentukan kualitas hidup.
Dan literasi bukan hanya soal kecerdasan, tapi soal kesadaran. Mau nggak kita bertanya, mengecek ulang, dan berani ragu?
Cara Melatih Literasi Individu: Tips Sederhana tapi Berdampak
Melatih literasi tidak butuh gelar S2. Kamu bisa mulai dari hal paling sederhana.
1. Jangan langsung percaya
Baca judul berita? Coba baca isinya dulu. Cek apakah sumbernya kredibel? Kalau tidak tahu, tanya ke orang lain atau cari sumber pembanding.
2. Latih skeptisisme, bukan sinisme
Kritik bukan berarti benci. Ragu bukan berarti tidak percaya. Skeptisisme sehat membantu kita tidak gampang dibohongi.
3. Tanya: ‘Siapa yang diuntungkan?’
Ini pertanyaan sederhana yang sering membuka banyak kebohongan. Siapa yang diuntungkan dari berita ini? Dari promo ini? Dari opini ini?
4. Ikuti akun edukatif di media sosial
Ada banyak akun yang bisa bantu kamu melek literasi, dari sains, ekonomi, hingga politik. Pilih yang menjelaskan dengan bahasa sederhana tapi akurat.
5. Berdiskusi, bukan berdebat
Kadang kita belajar lebih banyak dari obrolan santai di warung kopi dibanding kuliah. Jangan takut beda pendapat, asal tetap hormat.
Kalau kamu orang tua, ajarkan anakmu mengecek sumber, Kalau kamu guru, bantu murid berpikir kritis. Kalau kamu mahasiswa, latih kemampuan analisis saat menulis tugas. Setiap peran punya kontribusi.
Literasi Adalah Tanggung Jawab Kolektif: Kita Tidak Bisa Jalan Sendiri
Masih ingat Mila di awal cerita? Suatu hari ia mulai bosan dengan banjir informasi yang membingungkan. Ia memutuskan mengikuti kelas daring tentang literasi media. Perlahan-lahan, ia belajar membedakan berita dan opini. Ia mulai sadar bahwa tak semua yang viral itu benar.
Apa yang Mila lakukan sederhana. Tapi ini adalah bentuk perlawanan terhadap kebisingan informasi. Literasi adalah perjuangan personal—tapi juga gerakan sosial.
Pemerintah, sekolah, media, influencer, bahkan kita sendiri, semua punya peran. Literasi bukan tugas guru saja. Bukan hanya urusan kementerian. Ini soal kita semua.
Kita hidup di zaman di mana kebodohan bisa viral, dan kebenaran bisa sunyi. Satu-satunya cara bertahan adalah dengan menjadi individu yang melek informasi—dan membantu orang lain ikut tercerahkan.
Di dunia yang makin kompleks, literasi individu bukan cuma alat bantu, tapi sudah menjadi pelampung kehidupan. Tanpa itu, kita mudah tenggelam dalam banjir informasi palsu, manipulasi, dan kebingungan.
Penutup:
Literasi individu adalah pondasi untuk membangun masyarakat yang tangguh, kritis, dan adil. Ia bukan sekadar kemampuan teknis, tapi kesadaran hidup. Mulailah dari dirimu. Belajarlah untuk meragukan. Untuk membaca lebih dalam. Untuk memahami, bukan sekadar menyerap.
Karena di dunia yang penuh narasi, hanya orang yang literat yang bisa membedakan kebenaran dan kebohongan.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Pengetahuan
Baca Juga Artikel Dari: Retrieval Practice Cara Ampuh Tingkatkan Ingatan dan Fokus!
