JAKARTA, inca.ac.id – Dalam dunia yang semakin kompleks, persoalan kesehatan tidak selalu bermula dari tubuh — tapi juga dari kesepian, keterasingan, dan tekanan sosial. Di sinilah Social Prescribing hadir sebagai pendekatan baru yang menghubungkan individu dengan dukungan sosial berbasis komunitas, bukan sekadar terapi medis atau obat-obatan.

Model ini berkembang pesat di berbagai negara maju seperti Inggris dan Australia, dan mulai dikenal luas sebagai salah satu bentuk intervensi sosial yang berdampak langsung terhadap kesehatan mental, fisik, dan emosional seseorang.

Apa itu Social Prescribing?

Social Prescribing

Social prescribing adalah sistem rujukan non-medis di mana tenaga kesehatan atau pekerja sosial mengarahkan seseorang untuk mengikuti aktivitas sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Aktivitas ini bisa berupa:

  • Kelas seni atau musik

  • Kelompok olahraga ringan

  • Komunitas berkebun atau memasak

  • Relawan sosial atau kelompok diskusi

  • Dukungan kelompok untuk kesehatan mental

Konsep dasarnya adalah: keterhubungan sosial bisa menyembuhkan. Ketika seseorang merasa bagian dari komunitas dan memiliki rutinitas sosial yang positif, beban mentalnya berkurang, rasa percaya dirinya meningkat, dan kualitas hidupnya ikut naik.

Mengapa Social Prescribing dibutuhkan?

Banyak orang datang ke fasilitas kesehatan bukan karena sakit fisik semata, tetapi karena kondisi sosial-emosional yang tidak tertangani. Beberapa contoh kasus:

  • Lansia yang sering ke klinik karena kesepian

  • Mahasiswa yang mengalami stres berat akibat isolasi sosial

  • Ibu rumah tangga yang mengalami burnout namun tidak punya ruang berbagi

  • Pekerja kantoran yang terus menerus cemas tanpa masalah klinis spesifik

Dalam banyak kasus, resep medis tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah intervensi berbasis interaksi sosial, empati, dan keterlibatan. Inilah peran yang diisi oleh pendekatan social prescribing.

Peran link worker dalam social prescribing

Di negara yang sudah mengadopsi sistem ini secara resmi, peran penting dipegang oleh link worker atau kadang disebut sebagai social navigator. Mereka bukan dokter atau terapis, tetapi profesional terlatih yang:

  • Mendengarkan cerita dan kebutuhan individu secara utuh

  • Mengidentifikasi tantangan sosial yang dihadapi

  • Mencocokkan individu dengan layanan komunitas yang relevan

  • Memonitor progres dan memberi dukungan emosional

Dengan sistem ini, solusi tidak lagi berbasis satu arah (dokter ke pasien), melainkan kolaboratif dan personal.

Dampak positif yang telah terbukti

Berdasarkan laporan dari National Health Service (NHS) di Inggris, social prescribing menunjukkan beberapa dampak positif nyata:

  • Penurunan kunjungan ke dokter umum hingga 28%

  • Penurunan angka rawat inap non-darurat

  • Peningkatan rasa percaya diri dan kemampuan sosial individu

  • Pengurangan ketergantungan terhadap obat anti-depresan

Di luar data kuantitatif, banyak kisah inspiratif muncul dari praktik ini — seseorang yang dulunya tertutup menjadi pemimpin komunitas, lansia yang merasa “hidup kembali” karena bisa berbagi kebun dengan tetangga, dan remaja yang pulih dari tekanan sosial setelah bergabung dalam kelompok seni.

Tantangan penerapan social prescribing

Meski potensial, sistem ini tidak tanpa tantangan:

  • Kurangnya pemahaman di masyarakat. Banyak yang belum tahu bahwa solusi kesejahteraan bisa datang dari interaksi sosial.

  • Belum terintegrasi di sistem kesehatan formal. Di Indonesia, konsep ini masih baru dan belum masuk dalam sistem BPJS atau layanan kesehatan umum.

  • Keterbatasan komunitas lokal. Untuk bisa merujuk orang ke aktivitas sosial, harus ada komunitas yang aktif dan aman untuk diakses.

Namun dengan kesadaran yang meningkat dan peran aktif komunitas, social prescribing bisa menjadi solusi penting dalam menangani krisis kesehatan mental dan sosial.

Social prescribing di Indonesia: mungkinkah?

Meskipun belum menjadi sistem formal, beberapa inisiatif di Indonesia sebenarnya sudah mencerminkan prinsip-prinsip social prescribing:

  • Kelas lansia di Posyandu atau RPTRA

  • Komunitas jalan sehat, sepeda, atau yoga pagi di kota besar

  • Kelompok support group berbasis agama, hobi, atau pendidikan

  • Platform sosial seperti komunitas volunteer, taman baca, atau kegiatan relawan bencana

Yang dibutuhkan adalah pengakuan dan integrasi formal antara tenaga kesehatan dan layanan komunitas, agar proses rujukannya lebih terstruktur dan berdampak.

Penutup: resep sosial untuk hidup yang lebih utuh

Di tengah dunia yang semakin individualistik dan terfragmentasi, social prescribing menjadi jembatan antara manusia dan manusia lainnya. Ia menawarkan pendekatan holistik untuk menyembuhkan — bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa yang sunyi.

Bukan berarti obat dan terapi medis tidak penting, tetapi dalam banyak kasus, interaksi manusia adalah bagian dari penyembuhan yang paling mendasar. Dengan mendorong gaya hidup aktif secara sosial, kita tidak hanya membantu individu, tapi juga memperkuat jaringan sosial yang sehat dan saling mendukung.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Pengetahuan

Baca juga artikel lainnya: Musyawarah Daring: Solusi Pengambilan Keputusan Bersama

Penulis

Categories:

Related Posts

Berpikir Sistematis Berpikir Sistematis: Skill Wajib Mahasiswa Masa Kini
Jakarta, inca.ac.id – Di tengah tuntutan akademik yang semakin kompleks, berpikir sistematis menjadi salah satu
Pembelajaran Hybrid Pembelajaran Hybrid: Wajah Baru Dunia Kampus di Tengah Perubahan Zaman
inca.ac.id – Pembelajaran Hybrid hadir sebagai jawaban atas perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Sebagai
Kalkulus Lanjut Kalkulus Lanjut: Pilar Pemahaman Matematika Tingkat Tinggi
inca.ac.id  —   Kalkulus Lanjut merupakan kelanjutan alami dari kalkulus dasar yang telah dipelajari pada jenjang
Paramedicine Skills Paramedicine Skills: Providing Urgent Care in College—What I Wish I Knew
JAKARTA, inca.ac.id – Paramedicine Skills: Providing Urgent Care in College opened my eyes to so